Rabu, 14 Juli 2010

Sebutir Pasir

Penakluk pertama Mount Everest, puncak tertinggi dunia di Pegunungan Himalaya, Sir Edmund Hillary, pernah ditanya wartawan apa yg paling ditakutinya dalam menjelajah alam. Dia lalu mengaku tidak takut pada binatang buas, jurang yg buram, bongkahan es raksasa, atau padang pasir yg luas dan gersang sekalipun.
Lantas apa? 'Sebutir pasir yg terselip di sela sela kali jari',kata Hillary. Wartawan heran, tetapi sang penjelajah melanjutkan kata katanya. "Sebutir pasir yg masuk di sela sela jari kaki sering menjadi awal malapetaka. Ia bisa masuk ke kulit kali atau menyelusup lewat kuku. Lama lama jari kali terkena infeksi, lalu membusuk. Tanpa sadar, kaki pun tak bisa digerakkan. Itulah malapetaka bagi seorang penjelajah sebab dia harus ditandu."
Harimau, buaya, dan beruang, meski buas, adalah binatang yg secara naluriah takut menghadapi manusia. Sedang menghadapi jurang yg dalam dan ganasnya padang pasir, seorang penjelajah sudah punya persiapan memadai. Tetapi, jika menghadapi sebutir pasir yg akan masuk ke jari kaki, seorang penjelajah tak mempersiapkannya. Dia cenderung mengabaikannya.
Apa yg dinyatakan Hillary, kalau kita renungkan, sebetulnya sama dengan orang yg mengabaikan dosa dosa kecil. Orang yg melakukan dosa kecil, misalnya mencoba coba mencicip miras atau membicarakan keburukan orang lain, seringkali menganggap hal itu adalah dosa yg kecil. Karena itu, banyak orang kebablasan melakukan dosa kecil sehingga lambat laun menjadi kebiasaan. Kalau sudah jadi kebiasaan, dosa kecil itu pun akan berubah jadi dosa besar yg sangat membahayakan dirinya sendiri dan masyarakat.
Melihat kemungkinan potensi kerusakan besar yg tercipta dari dosa kecil itu, Nabi Muhammad saw mewanti wanti umatnya tidak mengabaikan dosa dosa kecil seraya tidak melupakan amal baik meskipun itu kecil.

Tidak ada komentar: